Soft Generation (1) : Sangat Peduli Pendapat Orang Lain

Relevan bagi generasi milennials dan seterusnya.

Pernah melihat atau membaca buku The Subtle Art of Not Giving a F**K (Seni Untuk Bersikap Bodo Amat)? Buku tersebut menduduki jajaran top seller di banyak toko buku di Indonesia dan bahkan menjadi #1 New York Time best seller.

Atau mungkin kamu pernah mengalami sendiri merasa tertekan terhadap pendapat rekan kerja, teman sekolah, atau mengetahui orang yang merasa terganggu, gelisah atau menyesuaikan aspek dalam hidupnya akibat pendapat orang-orang disekelilingnya.

Apa yang terjadi? Kenapa pendapat orang begitu mengganggu di kehidupan modern saat ini sampai-sampai buku dengan tema utama mengenai mengabaikan pendapat orang lain menjadi international best seller dimana-mana?

“Pendapat orang lain” yang saya bahas ini bukan dalam bentuk kritik dalam hal-hal yang penting seperti produktifitas atau pekerjaan melainkan hal-hal sepele yang umumnya mengenai personalitas, karakter dan kehidupan pribadi kita. Contohnya komentar tentang relationship, penampilan, pilihan karir, kebiasaan personal dan lain sebagainya.

Manusia adalah Zoon Politicon, makhluk sosial. Oleh karena itu manusia memang “dirancang” untuk peduli terhadap pendapat lingkungan sosialnya karena keberadaan lingkungan sosial sangat kritikal dalam keberlangsungan hidup tiap tiap individu. Tetapi pada perkembangannya, di dunia modern dimana bahaya langsung seperti serangan binatang buas, kelaparan dan serangan antar kelompok sudah tidak menjadi bahaya yang selalu mengancam kita setiap saat sehingga “rancangan” awal tersebut menjadi semakin tidak penting dan menyasar hal-hal yang semakin lama semakin remeh temeh. Sedangkan yang jadi masalah, rancangan kita untuk peduli terhadap pendapat lingkungan tidak menghilang dan masih terasa kurang lebih sama. Perasaan tersebut harus dilawan.

Kenapa perasaan tersebut harus dilawan?

Pertama, karena pendapat orang lain banyak juga yang tidak benar. Di zaman dulu, benar tidak benar memang ada baiknya mengikuti pendapat orang lain karena biasanya pertaruhannya adalah hidup dan mati, di masa lalu yang berlaku di sebagian besar keadaan adalah better safe than sorry. Sedangkan hal tersebut sudah tidak relevan lagi di masa sekarang.

Ketika kamu selalu mengikuti (atau minimal menjadikan pertimbangan) pendapat orang lain, ada kemungkinan kamu akan menjadi orang yang justru lebih buruk dari sebelumnya.

Kedua, yang terpenting adalah tekanan mental/stress yang bisa membuat kamu depresi atau terjadinya emotional distress dimana kamu dibanjiri oleh emosi dan stress sehingga tubuh anda bisa mengalami ”mini shutdown” dimana menjadi kehilangan semangat dan energi untuk mengambil tindakan apapun dan kehilangan semangat dan energi untuk bahkan beraktivitas secara normal.

Butuh kekuatan dan kesadaran untuk melawan perasaan ini dan benar apa yang dikatakan di buku tersebut bahwa hal-hal yang bisa kita pedulikan dan hal-hal yang tidak penting benar-benar harus kita abaikan. Yakinlah bahwa sebagian sangat-sangat besar pendapat orang tersebut tidak akan memberi pengaruh apapun pada hidup kamu jika kamu tidak membiarkannya masuk. Jadilah kuat dan jangan biarkan “sekedar“ kata-kata membuatmu ambruk. Sebagaimana adagium kuno Sticks and stones may break my bones, but words will never break me. But names will never harm me.

Ada kisah yang ingin didiskusikan mengenai topik ini? Share di komentar atau melalui e-mail msabri23.ms@gmail.com.

-TBE-

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

WRITTEN BY

MUHAMMAD SABRI

Be sure to follow my Instagram @itsmsabri and my Linkedin

Dapatkan notifikasi melalui e-mail setiap terbitnya artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Newsletter

Dapatkan notifikasi melalui e-mail setiap terbitnya artikel baru.

You have Successfully Subscribed!