Soft Generation (2) : “Kerja, Kerja, Kaya Kagak, Tipes Iya”

“Kerja, Kerja, Kaya Kagak, Tipes Iya”

“jangan habiskan waktu dan usiamu di pekerjaan yang akan mengganti posisimu dalam hitungan hari ketika kamu pensiun/meninggal”

Pernah mendengar atau melihat kata-kata “bijak” diatas? Atau malah mungkin setuju dengan kata-kata tersebut? Sebaiknya segera tinggalkan pemikiran seperti itu. Pemikiran seperti itu salah dan kontraproduktif dalam menjalankan kehidupan dan karir kamu.

Kenapa salah? 

Ada beberapa hal yang bisa dijabarkan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, alasan utama kita bekerja bukanlah untuk menjadi kaya tetapi bekerja merupakan syarat dasar keberadaan kita di muka bumi ini yaitu bertahan hidup. Kehidupan modern saat ini mungkin telah membuat kita menjadi lalai dan lupa bahwa pada dasarnya manusia itu bekerja untuk hidup. Misalnya kamu seorang model, videografer, presenter, lawyer, public relation atau berbagai pekerjaan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan pertanian, peternakan dan perikanan mungkin kamu akan merasakan bias dimana kamu tidak merasa pekerjaanmu berhubungan langsung dengan keberlangsungan hidupmu, padahal ini adalah berkah yang unik di era yang semakin modern ini. Era modern menyebabkan hal-hal mendasar seperti pertanian, peternakan dan perikanan menjadi sangat efisien berkat teknologi dan perkembangan zaman sehingga hanya dibutuhkan sedikit orang untuk memberi makan orang banyak. Efisiensi ini menyebabkan kita bisa berspesialisasi mengerjakan hal-hal lain yang membuat hidup kita menjadi lebih baik dan lebih nyaman dibandingkan orang-orang sebelum kita.

Bayangkan di zaman pra-sejarah dimana satu orang hanya bisa menangkap 1 atau 2 ikan sehari (atau mungkin tidak dapat sama sekali), berburu dan hanya mendapatkan buruan seminggu sekali atau sebulan sekali, apakah mungkin di masa tersebut orang bisa mengerjakan pekerjaan di industri hiburan atau pariwisata? tentu tidak. Mungkin kah orang pra-sejarah tersebut mengejar “work life balance” atau berfikir untuk berhenti atau mengeluhkan pekerjaannya karena “burn out” atau karena jika dia pensiun atau meninggal, posisinya sebagai pemburu di kelompoknya akan digantikan orang lain? Tidak mungkin. Inilah bekerja, bekerja merupakan bagian integral dari kehidupan manusia dari manusia pertama sampai kita manusia modern saat ini. Bersyukurlah kita tidak perlu mengumpulkan umbi-umbian hari ini untuk makan hari ini sehingga kita masih bisa cuti satu-dua minggu untuk traveling ke tempat wisata atau staycation.

Zaman modern ini sudah menjadi sangat nyaman dan penuh dengan kenikmatan dan hiburan sehingga kita lupa pada dasarnya kita bekerja untuk bertahan hidup, karena bertahan hidup sudah bukan menjadi masalah utama bagi sebagian besar orang. Penjaga kedai kopi dan donat mungkin merasakan bahwa pekerjaannya tidak berhubungan dengan basic survival padahal orang bisa mengkonsumsi kopi dan donat dikarenakan para customernya tidak perlu berburu atau bertani sendiri dan memiliki akses mudah terhadap air bersih. Intinya sebagian besar pekerjaan yang anda jalani adalah untuk menopang kenyamanan hidup manusia lainnya walaupun terasa sangat tidak berhubungan dengan dasar-dasar bertahan hidup karena efisiensi yang terjadi di era modern ini memungkinkan hal tersebut untuk terjadi.

Jika sebagian ada yang menjadi kaya karena pekerjaannya, that’s good, tetapi hubungan bekerja adalah dengan bertahan hidup, bukan dengan kekayaan, kekayaan adalah byproduct yang mungkin tercapai, mungkin tidak, tidak ada yang berhutang kekayaan kepadamu hanya karena kamu bekerja.

Kedua, mengenai perusahaan yang akan segera menggantikanmu dengan orang lain jika kamu pensiun atau meninggal, yah terus mesti bagaimana? Apakah perusahaan tersebut harus melaksanakan bulan berduka untuk menangisi kepergianmu dan membiarkan posisi yang kamu tinggalkan kosong berbulan-bulan karena mereka gagal move on? Ya tentu tidak, the show must go on. Pikiran “merasa istimewa” ini juga buah dari modernitas yang membuat kita menjadi bias dalam memandang keadaan. Jika tim pemburu di kelomopok pra-sejarah kita ada yang tewas diseruduk mammoth, apakah tim pemburumu akan meraung-raung selama berminggu-minggu dan membiarkan timnya kekurangan orang selama berbulan bulan karena tidak mau ada orang lain yang langsung menggantikan posisimu, tentu tidak masuk akal. Sekali lagi, the show must go on.

Lalu mentalitas seperti apa yang harus kita miliki dalam menjalani rutinitas pekerjaan dan karir? Ya nikmati, seriously nikmati padatnya kerjaan, nikmati capeknya badan, nimati macetnya jalanan, nikmati padatnya commuter line, nikmati fakta bahwa kamu tidak harus berburu mammoth dalam 3 bulan perjalanan berburu puluhan kilometer jauhnya dari rumah, berteduh di goa-goa tanpa ada jaminan kamu akan mendapatkan buruan tersebut dan bisa kembali dengan selamat, boro-boro jaminan untuk kaya dan pensiun. Bekerja adalah bagian integral dari hidup yang sudah ada dari manusia pertama hingga manusia terakhir nantinya, sadari itu, nikmati dan syukuri kita bisa mendapatkan standar kehidupan yang sangat tinggi dengan menjalankan pekerjaan yang relatif ringan jika dibandingkan dengan para pendahulu kita.

Jika kamu menemukan pemikiran seperti itu lagi, sampaikan bahwa dia bisa kapan saja memilih untuk resign, mencari hutan yang jauh dari peradaban dan bertahan hidup dengan menjalankan pekerjaan-pekerjaan basic seperti berburu, mengumpulkan umbi-umbian dan menyerok ikan di danau dan sungai. Yuk bisa yuk.

-TBE-

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

WRITTEN BY

MUHAMMAD SABRI

Be sure to follow my Instagram @itsmsabri and my Linkedin

Dapatkan notifikasi melalui e-mail setiap terbitnya artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Newsletter

Dapatkan notifikasi melalui e-mail setiap terbitnya artikel baru.

You have Successfully Subscribed!