Soft Generation (3) : “Tapi Kalau Dia Kan Punya Privilege”

“Maudy Ayunda kan bisa begitu karena privilege“, “Nadiem Makarim kan bisa begitu karena privilege” dan seterusnya dan seterusnya. Memperpanjang alasan dan mencari pembenaran membuat otak kita membenarkan hal tersebut, otak yang seharusnya merupakan mekanisme yang lebih canggih daripada supercomputer manapun dan bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah sebesar apapun malah disuruh untuk berhenti berfikir dengan mencari pembenaran dan alasan.

Ya benar Maudy Ayunda punya privilege, Nadiem, Gita Gutawa, Rafatar dan siapapun yang namanya bisa kamu pikirkan saat ini, tetapi tidak ada yang memintamu untuk menjadi mereka toh? Apakah versi terbaikmu adalah harus masuk Oxford? atau harus menjadi founder decacorn pertama di Indonesia? tentu tidak. Kamu dan mereka punya versi terbaik masing-masing, dan bahkan bisa jadi versi terbaik kita semua lebih baik daripada mereka, but feel no unecessary pressure. So, dibanding otak kita yang supercanggih ini digunakan untuk mencari pembenaran atas kondisi kita yang tidak ideal saat ini, lebih baik digunakan untuk mengasah diri untuk menjadi versi terbaik kita. Pelajari bahasa baru, pelajari skill baru, latih disiplin, mulai project yang sudah lama kita tunda-tunda, mari kita gunakan otak kita untuk membawa kita menjadi versi terbaik yang bisa kita capai.

Pada dasarnya memang ada privilege yang dimiliki orang lain yang membuat kesempatan mereka untuk sukses secara material lebih besar –no one deny that– tetapi itu bukan segala-galanya dan kenyataannya hal tersebut tidak 100% tentang uang/koneksi, dan bahkan bisa jadi kamu yang sedang membaca artikel ini juga sebenarnya memiliki privilege tersebut karena batas bawah dari privilege ini memang tidak terlalu tinggi, yaitu privilege untuk gagal. Kita akan membahas tentang apa itu privilege untuk gagal di artikel yang akan datang, karena di artikel kali ini saya ingin mendebunk kebiasaan kita yang langsung mengatributkan privilege terhadap kesuksesan orang lain.

Poin utama yang paling kuat dan to the point dalam mendebunk mindset “privilaga privilege” ini adalah fakta bahwa ada berjuta-juta orang sepanjang sejarah manusia yang bangkit dari ketidakpunyaan ekstrem menuju kejayaan finansial dan personal (contohnya orang yang menjadi tokoh yang mulia di masyarakat tetapi tidak mengejar kekayaan material).

Daftar yang bisa kita tulis untuk menyebutkan orang-orang seperti ini tidak akan habis walaupun ditulis dalam 1000 page blog ini so saya akan menyebutkan beberapa referensi yang kekinian dan cukup sehingga kita bisa menangkap pelajaran dari orang-orang tersebut.

  • Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, salah satu orang terkaya di Indonesia keluarganya begitu miskin sampai dulunya tinggal di rumah di gang sempit yang tidak memiliki WC sendiri.
  • Sri Dato Tahir, Pemilik Mayapada Group, salah satu orang terkaya di Indonesia, tinggal di rumah kontrakan dengan lebar 3,5-4 meter, ayahnya seorang tukang becak.
  • Prajogo Pangestu, orang terkaya ketiga di Indonesia (Hingga artikel ini diterbitkan) pemilik mayoritas Barito Pacific¬† dan berbagai perusahaan lainnya, pernah jadi supir angkot, ayahnya yang bekerja sebagai penyadap karet hanya bisa menyekolahkannya hingga SMP.

Dan seterusnya dan seterusnya, begitu juga cerita berbagai atlet dan artis yang dulunya hingga ada yang menggelandang di jalan tetapi sekarang memiliki harta puluhan hingga ratusan miliar. Kenapa cerita selebriti dan atlet banyak terekspose memiliki masa lalu yang sangat sulit, karena mereka berada dalam sorotan sehingga kisah mereka banyak diketahui publik. Saya yakin ada jutaan kisah serupa di berbagai sektor lain yang tidak terekspos di publik tetapi nyata adanya, bahkan kamu sendiri mungkin tau beberapa orang dengan kisah seperti itu. (Oh iya jika sampai sini kamu berfikiran bahwa “ya beda dong kalau artis dan atlet mereka sudah ada modal fisik dan suara yang unggul jadi itu privilege mereka untuk sukses” berarti kamu benar-benar sudah menjadi M.oA Master of Alasan :'( yuk luruskan lagi mindsetnya, yuk bisa yuk)

Oh iya, tokoh politik juga banyak banget yang berasal dari awalan yang sederhana, tetapi tidak bisa saya sebutkan di artikel ini, nanti malah jadi heboh di sisi politiknya, research sendiri yaa.

Jadi, kamu bisa, kemungkinan besar kamu juga sudah memiliki modal yang diperlukan untuk menjadi versi sukses terbaik kamu, nggak usah mikirin privilege orang lain lagi, it’s not our business. Gak ada juga orang di sekitaran kita yang membandingkan kita dengan Nadiem Makarim atau Rafatar atau Sisca Kohl atau Kiano atau siapapun itu, just be the best version of you, gapai sukses versimu sendiri, bisa jadi lebih besar dari nama-nama tersebut, kenapa tidak? Toh pak Chairul Tanjung dan nama nama yang saya sebutkan diatas saja bisa jauh lebih makmur dibandingkan nama orang-orang yang dilahirkan dengan privilege tersebut, kenapa kita tidak?

Note : Bukan berarti perjuangan kita akan semudah mereka, pasti lebih sulit. Tapi, jika hidup ini adalah panggung sandiwara, tentu tidak seru nonton film yang lurus-lurus aja, yang pahlawannya bisa menang dengan mudah. Atau game yang dimana semua penjahat dan rintangannyanya bisa dikalahkan dengan 1 tombol pukulan, mana seru. Sebagai pahlawan dan jagoan di kehidupanmu sendiri, the challenges that you face is the one that will make you great. cheers!

-TBE-

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

WRITTEN BY

MUHAMMAD SABRI

Be sure to follow my Instagram @itsmsabri and my Linkedin

Dapatkan notifikasi melalui e-mail setiap terbitnya artikel baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Newsletter

Dapatkan notifikasi melalui e-mail setiap terbitnya artikel baru.

You have Successfully Subscribed!